TRANSFORMASI PERUBAHAN BENTUK RUMAH TINGGAL ARSITEKTUR BETAWI PINGGIRAN DI DEPOK
DOI:
https://doi.org/10.31848/arcade.v9i4.4365Abstract
Abstract: Since the establishment of Jakarta (formerly Batavia), the coastal area, specifically at the mouth of the Ciliwung River, has been the birthplace of the Betawi ethnic. Rapid development has caused the Betawi people to gradually shift and choose to settle on the outskirts of Jakarta, one of which is Depok. As a result, Depok has become increasingly socially and culturally integrated with Jakarta, giving rise to the Betawi people of Depok known as the Betawi Pinggiran. This study aims to explore the characteristics of Betawi architecture that have transformed and adapted in the outskirts of Jakarta, while still retaining its local values. The method used in this study is a qualitative descriptive method, which involves studying and conducting direct observations of the physical characteristics of Betawi Pinggiran, based on literature studies of the mass & spatial layout, architectural elements, and construction structures of Betawi Pinggiran house objects in Depok. The result shows that the physical characteristics of Betawi houses in Betawi Pinggiran houses are somewhat influenced by Sundanese architecture, particularly in the use of materials and house shapes. This is still represented in the selected research objects, as seen in the use of gable roofs with serondoyan, umpak foundation structure, the use of gedhek, krepyak doors and krepyak windows, langkan, gigi balang, and balaksuji or gelodog stairs, which typically consist of no more than three steps. In some of the remaining Betawi Pinggiran houses, these features are gradually being abandoned with only minor modifications to the carvings, these modifications can be seen in ornaments such as doors, windows, air vents, gigi balang, and langkan.
Keyword: Betawi Houses, Physical Characteristics, Betawi Pinggiran, Depok
Abstrak: Sejak awal berdirinya Jakarta (dahulunya Batavia), wilayah pesisir tepatnya di daerah muara Sungai Ciliwung merupakan wilayah cikal bakal etnis Betawi bermula. Pesatnya pembangunan, menyebabkan masyarakat Betawi perlahan tergeser dan memilih untuk menetap di pinggiran kota Jakarta, salah satunya Depok. Sehingga, Depok secara sosial budaya semakin terinklusi dengan Jakarta, yang kemudian melahirkan orang Betawi Depok sebagai generasi Betawi Pinggiran. Penelitian ini bertujuan untuk mengeksplorasi karakteristik arsitektur Betawi yang bertransformasi dan beradaptasi di wilayah pinggiran Jakarta dengan tetap mengandung nilai lokalitas. Metode yang digunakan dalam penelitian adalah metode deskriptif kualitatif dengan mempelajari dan melakukan pengamatan atau observasi langsung terhadap karakteristik fisik Betawi Pinggiran berdasarkan studi literatur bentuk massa dan tata ruang, elemen arsitektural dan struktur konstruksi, pada objek rumah Betawi Pinggiran di Depok. Hasil Penelitian menunjukkan bahwa penerapan karakteristik fisik rumah Betawi pada rumah Betawi Pinggiran, sedikit banyak dipengaruhi oleh arsitektur Sunda, terutama dalam penggunaan bahan material dan bentuk rumah. Hal tersebut masih terwakilkan pada objek penelitian terpilih, terlihat dari penggunaan atap pelana dengan serondoyan, struktur pondasi umpak, penggunaan gedhek, pintu dan jendela krepyak, langkan, gigi balang dan tangga balaksuji atau gelodog yang tidak lebih dari 3 anak tangga. Namun keberadaannya pada rumah tinggal sesungguhnya sudah mulai ditinggalkan, pada beberapa rumah tinggal Betawi Pinggiran yang masih tersisa, hanya dapat dijumpai beberapa modifikasi bentuk ukiran pada ornamen di pintu, jendela, lubang angin dan juga langkan.
Kata Kunci: Rumah Betawi, Karakteristik Fisik, Betawi Pinggiran, Depok
Downloads
Published
How to Cite
Issue
Section
License

This work is licensed under a Creative Commons Attribution-ShareAlike 4.0 International License.











