PENGARUH VARIASI MULTIPLE PLATFORM AERATOR TERHADAP PENURUNAN KADAR BESI (Fe) PADA AIR BERSIH DI PT. X

Authors

  • Andika Taufik Nur Rahman Poltekkes Kemenkes Bandung
  • Nia Yuniarti Hasan Poltekkes Kemenkes Bandung
  • Redi Yudha Irianto Poltekkes Kemenkes Bandung
  • Dindin Wahyudin Poltekkes Kemenkes Bandung

DOI:

https://doi.org/10.31848/ejtl.v8i1.3805

Abstract

Hasil pemeriksaan kadar besi (Fe) di PT. X pada sampel air bersih yaitu 1,31 mg/L, kadar besi (Fe) pada air bersih di PT. X melebihi standar baku mutu yang sudah ditetapkan oleh Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 2 Tahun 2023. Tujuan penelitian untuk mengetahui bagaimana pengaruh variasi platform terhadap penurunan kadar Fe pada air bersih dengan metode multiple platform aerator. Desain penelitian yang digunakan yaitu Pretest-Posttest without Control dengan jenis penelitian yang digunakan adalah penelitian eksperimen dengan tujuan untuk mengetahui bagaimana pengaruh variasi platform dengan variasi 3 platform, 4 platform, 5 platform. Teknik pengambilan sampel yang digunakan untuk pengambilan sampel air bersih adalah teknik grab sampling. Sampel dalam penelitian ini adalah sebagian air bersih yang bersumber dari air tanah dan biasa digunakan oleh pekerja di PT. X. Jumlah 5 platform pada proses aerasi dengan metode multiple platform aerator merupakan jumlah platform yang paling tinggi untuk menurunkan kadar Fe pada air bersih di PT. X dengan penurunan sebesar 1,33 mg/L dan persentase 93,6. Saran untuk industri dapat menerapkan alat multiple platform aerator dengan variasi 5 platform untuk menurunkan kadar besi (Fe) pada air bersih dan proses pembuatan alat multiple platform aerator.

Author Biography

Andika Taufik Nur Rahman, Poltekkes Kemenkes Bandung

Jurusan Kesehatan Lingkungan

Published

2025-06-30

How to Cite

Nur Rahman, A. T., Nia Yuniarti Hasan, Redi Yudha Irianto, & Dindin Wahyudin. (2025). PENGARUH VARIASI MULTIPLE PLATFORM AERATOR TERHADAP PENURUNAN KADAR BESI (Fe) PADA AIR BERSIH DI PT. X. ENVIROSAN : Jurnal Teknik Lingkungan, 8(1), 29–35. https://doi.org/10.31848/ejtl.v8i1.3805