PENERAPAN POLA 1-3-1 PADA PENATAAN PEDAGANG KAKI LIMA (PKL), DI KANAL BANJIR TIMUR (KBT) JAKARTA TIMUR
DOI:
https://doi.org/10.31848/ncb8kj47Abstrak
Abstrak: Keberadaan Kanal Banjir sejatinya berfungsi sebagai saluran drainase mengatasi banjir: untuk mengalirkan air dari sungai di hulu melalui saluran kolektor yang dimulai dari selatan kota (Kawasan Manggarai) menyusuri tepi barat kota menuju ke laut yang muaranya berada di Muara Angke. Upaya selanjutnya, dibangun Kanal Banjir Timur (BKT) sebagai salah satu upaya Pemerintah Pusat saat itu untuk mengendalikan banjir di seluruh Jakarta. Pemerintah Pusat saat ini sudah menerbitkan berbagai peraturan tentang pengelolaan fungsi sungai. Kondisi ini bertolak belakang dengan keberadaan KBT saat ini dimana terdapat fungsi-fungsi aktifitas warga lainnya yang dapat memberikan kontribusi positif bagi wajah kota. Aktifitas olah raga, sirkulasi kendaraan bermotor dan non-motor, pawai kegiatan tahunan dan Pedagang Kaki Lima (PKL) menjadi aktifitas keseharian dan sangat menarik. Khusus keberadaan PKL di lokasi KBT segmen Pondok Bambu menarik untuk diteliti lebih mendalam dengan penerapan pola 1-3-1. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif. Data dikumpulkan dengan observasi lapangan dan wawancara dengan tokoh kunci dan Masyarakat sekitar Lokasi penelitian. Selanjutnya dikuti dengan analisis data secara deskriptif kualitatif. Tujuan dari penelitian ini diharapkan dapat menjadi rekomendasi alternatif penataan PKL untuk menjadikan kawasan lebih tertib dan menarik.
Kata kunci: Kanal Banjir Timur; Pola 1-3-1, Pedagang Kaki Lima (PKL)
Unduhan
Diterbitkan
Terbitan
Bagian
Lisensi
Hak Cipta (c) 2026 Jurnal Arsitektur ARCADE

Artikel ini berlisensiCreative Commons Attribution-ShareAlike 4.0 International License.










