Analisis Pencahayaan Alami Pada Ruang Kelas Bangunan Cagar Budaya Di Bandung Menggunakan Velux
DOI:
https://doi.org/10.31848/arcade.v9i4.4018Abstrak
Saat ini konservasi energi telah merupakan salah satu isu penting dalam desain arsitektur Salah satu wujud untuk mendukungnya adalah optimalisasi potensi cahaya alami, sehingga mengurangi penggunaan energi listrik untuk penerangan buatan. Untuk itu desain bukaan cahaya pada fasad harus tepat agar kuat penerangan dapat memenuhi standar. Sebagai objek penelitian adalah beberapa ruang kelas di SMAN 5 Bandung. Permasalahan yang dijumpai adalah dengan desain bukaan cahaya yang ada, hanya sebagian area ruang yang kuat penerangannya sesuai standar ruang kelas sehingga harus selalu menyalakan lampu. Dengan statusnya yang merupakan bangunan cagar budaya kelas A, maka tidak dapat dilakukan perubahan tampilan fisik pada fasad (desain ulang bukaan cahaya), sehingga diperlukan usaha antara lain perubahan warna material interior untuk meningkatkan efek pantulan cahaya yang berdampak meningkatkan kuat penerangan dalam ruang. Metoda analisis dilakukan secara kuantitatif komparatif, berdasarkan hasil pengukuran lapangan serta simulasi cahaya alami menggunakan software Velux Daylight Visualizer 3 pada model 3 dimensi baik dalam kondisi eksisting maupun kondisi usulan. Tujuan penelitian ini adalah untuk memperoleh gambaran distribusi cahaya alami dan peningkatan kuat penerangan sesuai kebutuhan kerja visual. Hasil penelitian menunjukkan bahwa melalui peningkatan reflektansi material pada plafon dan dinding dapat diperoleh rata-rata peningkatan kuat penerangan pada ruang-ruang kelas tersebut masing-masing sebesar 35,59 lux, 46,11 lux, dan 90,25 lux. Melalui penelitian ini diharapkan dapat diperoleh solusi untuk mendukung hemat energi pada bangunan tanpa mengorbankan kenyamanan visual pengguna.
