PENGUKURAN GREENSHIP KAWASAN(BUILT PROJECT) VERSI 0.1 PADA KAWASAN WISATA BANDAR ECOPARK DI KABUPATEN BATANG
DOI:
https://doi.org/10.31848/arcade.v3i1.174Abstract
Abstract: GREENSHIP neighborhood is an rating tool for disseminating and inspiring realization of sustainable areas. Benefits by applying GREENSHIP Neighborhood are: (1) Maintaining harmony and balance of environmental ecosystems, as well as improving quality of environment, (2) Minimizing adverse impacts of development on the environment, (3) Improving quality of microclimates, ease of achievement, security, and convenience pedestrian and (5) Maintaining a balance between needs and availability of resources in future. In case study of Bandar Ecopark which located in Bandar Subdistrict, Batang Regency is a recreational area with an ecotourism park that has a positive impact on environment. So it is interesting to study the extent of Greenship Region measurements that can be achieved in this region. Measurement method uses one of the 4 Greenship Region benchmarks, namely: (1) mixed use area, (2) commercial, (3) settlement and (4) industry. Results of the Greenship Region shows that Bandar Ecopark region has score 57 with quality 46% (of total value 124), with details: LEE (17), MAC (14), WMC (0), SWM (6 ), CWS (10), BAE (6) and IFD (4). Greenship neighborhood that generated is SILVER. To optimize rankings, it is necessary to add a number of means in each benchmark.
Keyword: green architecture, ecotourism, greenship neighborhood.Abstrak: GREENSHIP Kawasan merupakan perangkat penilaian untuk menyebarkan dan menginspirasi dalam perwujudan kawasan yang berkelanjutan. Manfaat yang diperoleh dengan menerapkan GREENSHIP Kawasan yakni: (1) Menjaga keserasian dan keseimbangan ekosistem lingkungan, serta meningkatkan kualitas lingkungan kawasan, (2) Meminimalkan dampak buruk pembangunan terhadap lingkungan, (3) Meningkatkan kualitas iklim mikro, (4) Menerapkan asas keterhubungan, kemudahan pencapaian, keamanan, dan kenyamanan pada jalur pedestrian dan (5) Menjaga keseimbangan antara kebutuhan dan ketersediaan sumber daya di masa mendatang. Pada studi kasus kawasan wisata Bandar Ecopark yang terletak di Kecamatan Bandar, Kabupaten Batang merupakan kawasan wisata rekreasi air dengan daya tarik taman ekowisata yang berdampak positif bagi lingkungan. Sehingga menarik untuk dikaji sejauhmana pengukuran Greenship Kawasan yang dapat tercapai pada kawasan ini. Metode pengukuran menggunakan salah satu dari 4 tolok ukur Greenship Kawasan yaitu: (1) kawasan mixed use, (2) komersial, (3) pemukiman dan (4) industri. Hasil dari pengukuruan Greenship Kawasan menunjukkan bahwa kawasan wisata Bandar Ecopark dari total nilai keseluruhan maksimum sebesar 124, kawasan Bandar Ecopark mendapat nilai 57 dengan bobot 46% dengan rincian: LEE (17), MAC (14), WMC (0), SWM (6), CWS (10), BAE (6) dan IFD (4). Peringkat Greenship Kawasan yang dihasilkan adalah SILVER. Untuk mengoptimalkan peringkat maka perlu penambahan beberapa sarana di setiap tolok ukur.
Kata kunci: green architecture, ekowisata, greenship kawasanReferences
GBCI Indonesia. (2018). Greenship. Rating Tools. http://www.gbcindonesia.org/greenship. [diakses pada 4 Oktober 2018].
Green Building Council Indonesia . (2014). Greenship Homes Version 1.0.. Jakarta.
Green Building Council Indonesia . (2015). Greenship Neighborhood Version 1.0.. Jakarta.
Ismaun, Iwan dan Nirwono Joga. 2011, “RTH 30%! Resolusi (Kota) Hijauâ€. Jakarta: PT. Gramedia Pustaka Utama
Kete, Ramadhan. 2016. “Pengelolaan Ekowisata Berbasis Goa; Wisata Alam Goa Pindulâ€,Yogyakarta: Deepublish
Nafi, Mochammad., Supriyadi, Bambang., & Roedjinandari, Nanny. (2017),“Pengembangan Ekowisata Daerahâ€â€™Buku Bunga Rampai ISBN : 978-602-6672-41-4. 39-43.
Pemerintah Kabupaten Batang. (2016). https://www.batangkab.go.id/?p=2&id=23. [diakses pada tanggal 4 Oktober 2018].
Purwanti, Novi Dwi., & Dewi, Retno Mustika. (2014), “Pengaruh Jumlah Kunjungan Wisatawan Terhadap Pendapatan Asli Daerah Kabupaten Mojokerto Tahun 2006â€, Jurnal Pendidikan Ekonomi. 2. 3-4.
Setiawan, Agnas. 2018.,â€Membuka Wawasan dengan Geografi untuk Kelas X SMAâ€,Yogyakarta: Deepublish.
Salim, Emil. 2010,â€Ratusan Bangsa Merusak Satu Bumiâ€. Jakarta: PT. Kompas Media Nusantara.
Supriatna, Jatna. 2008. “Melestarikan Alam Indonesiaâ€. Jakarta: Yayasan Obor Indonesia.
Suryadana, Liga. 2013. “Sosiologi Pariwisata; Kajian Kepariwisataan dalam Paradigma Integratif Transformatif Menuju Wisata Spiritualâ€,Bandung : Humaniora.
Simanjuntak, Bungaran Antonius. 2015. “SEJARAH PARIWISATA: Menuju Perkembangan Pariwisata Indonesiaâ€,Jakarta: Yayasan Pustaka Obor Indonesia.
Sudarwani, M Maria. (2012),â€Penerapan Green Architecture dan Green Building sebagai Upaya Pencapaian Sustainable Architectureâ€. Majalah Ilmiah Universitas Pandanaran, 10.1-2.
Soedigdo, Doddy., & Priono, Yesser. (2013),â€Peran Ekowisata dalam Konsep Pengembangan Pariwisata Berbasis Masyarakat pada Wisata Alam (TWA) Bukit Tangkiling Kalimantan Tengahâ€,Jurnal Perspektif Arsitektur.8. 2-7.
Sadjarwo, Iqbal., & Arianti Sutandi. (2017).,â€Analisis Penerapan Greenship Neighborhood Version 1.0 pada Kawasan Perumahanâ€,Konferensi Nasional Teknik Sipil 11. 55-63.
Tanuwidjaja, Gunawan. (2011),â€Desain Arsitektur Berkelanjutan di Indonesia: Hijau Rumahku Hijau Negerikuâ€,Scientific Repository Petra University.2.
Keputusan Bupati Batang No. 551.2/ 116/ 2005. Tentang Jalur Operasi Angkutan Perintis di Kabupten Batang.
Peraturan bersama Menteri tenaga kerja dan transmigrasi dengan Menteri kehutanan Nomor PER. 23 /MEN/XI/2007 dan Nomor P. 52/MENHUT II/2007
Perda Kabupaten Batang Nomor 7 Tahun 2011, Rencana Tata Ruang dan Wilayah Kab. Batang.
Perbup Nomor 91 tahun 2016 Kabupaten Batang Tentang Perubahan Tarif Retribusi Tempat Rekreasi dan Olahraga.
KEP-48/MENLH/11/1996 Tentang Baku Tingkat Kebisingan.











